SEKAR GINOTAN, JAKARTA - Suara dialog orang terdengar di awal lagu. Terdengar pula suara gitar akustik 12 senar dengan nada yang tengah di-tuning. Kemudian, harmonik gitar berdenting disusul dengan petikan nan syahdu.
Alunan ini merupakan cikal bakal sentral dari melodi gitar tersebut. Kemudian, kord simpel dimainkan dari nada D. Menarik dan berulang-ulang. Ketika tengah mencapai klimaks, suara lainnya terdengar. Ya, itulah suara Moog synthesizer.
And You And I--nama lagu tersebut--merupakan sebuah masterpiece dari band progressive rock, Yes. Lagu ini berada di album 'Close The Edge' yang merupakan salah satu album terbaik sepanjang masa yang pernah dirilis oleh Yes.
“Kita sedang dalam puncak dunia saat membuat album 'Close to the Edge'," kata vokalis sekaligus pencipta lagu Yes, Jon Anderson seperti dikutip dari situs resmi Yes, www.yesworld.com, belum lama ini.
Ya, hingga kini, vokalis bersuara 'malaikat' itu tetap mengakui bahwa periode tersebut merepresentasikan Yes saat berada dalam puncak karier mereka.
Dirilis pada 13 September 1972 di bawah label Atlantic Records, album ini membawa Yes ke era keemasannya. Betapa tidak, begitu dirilis, album ini bercokol di posisi 3 tangga lagu Amerika Serikat dan nomor 4 di Inggris. Album ini juga menerima sertifikat platinum karena terjual lebih dari 1 juta kopi.
Ada 3 lagu di album tersebut. Salah satunya adalah 'And You And I' yang terilhami dari pengalaman spiritual sang vokalis, Jon Anderson. Lalu, dua lagu lainnya adalah 'Siberian Khatru' dan 'Close to the Edge'.
Lagu 'And You And I' dibangun dengan empat pondasi, yakni empat bagian dalam satu lagu. Keempat bagian tersebut adalah 'Cord of Life', 'Eclipse', 'The Preacher the Teacher', dan bagian pamungkas lagu tersebut 'The Apocalypse'.
Jon Anderson mengatakan lagu 'And You And I' memiliki banyak interpretasi. Kata 'You' dalam lagu tersebut bisa jadi merupakan Tuhan, bisa jadi pula itu adalah manusia. Untuk itu, Jon Anderson menyerahkan intrepretasi itu kepada pendengeran.
"Mungkin itu ditujukan untuk Tuhan. Atau, itu bisa jadi kita sendiri. Para penonton dan saya, yang tengah menjadi kenyataan sesungguhnya dari sebuah keindahan hidup. Kita menggapai pelangi untuk bisa memahami sesuatu. Kamu dan saya berupaya memanjat untuk lebih dekat kepada langit," ujar Anderson.
“And You And I ditulis dengan lima bagian yang berbeda. Lalu, kita menyatukannya. Kali pertama, ide itu langsung muncul. Ini akan menjadi sebuah lagu folk indah yang saya tulis bersama gitaris, Steve Howe. Namun, kita putuskan lagu ini menjadi sebuah tema yang sangat besar," tutur Jon Anderson.
Cord of Life
Bagian pertama dalam lagu tersebut adalah 'Cord of Life'. Dialog sang gitaris, Steve Howe, mengawali bagian ini. Kemudian, Howe menyetem gitar akustik 12 senarnya seraya memulai mendentingkan melodi harmonik. Lalu, memetik gitarnya mengawali lagu tersebut.
Ketika Steve Howe mulai memainkan kord, sang kibordis Rick Wakeman menyambutnya dengan instrumen Moog synthesizer. Ini merupakan instrumen andalan Wakemen, kendati alat ini dipopulerkan kali pertama oleh kibordis futuristik, Keith Emerson dari band Emerson Lake & Palmer.
Berbarengan dengan suara Moog ala Wakeman, sang bassist Chris Squire memetik instrumennya berbarengan dengan ketukan yang digagas sang drummer, Bill Bruford. Lalu, pada menit 1.40, vokal Jon Anderson membahana memulai lirik 'A man conceived a moment's answer to the dream'.
Ada perubahan di menit 2.50. Pembagian suara dimulai. Ya inilah yang menjadi trademark dari Yes, berbeda dari grup progressive rock lainnya. Anderson menyenandungkan lirik inti dengan melodi yang tinggi. Lalu, Howe dan Squire bersahut-sahutan menyanyi dengan lirik yang berbeda.
Eclipse
Memasuki bagian kedua, 'Eclipse', Yes pun memperlambat tempo. Bagian ini dipimpin oleh permainan Melotron dan Moog yang epik dari sang maestro, Wakeman. Temanya masih sama dengan 'Cord of Life'. Hanya saja kali ini hanya dimainkan dengan instrumen Wakeman.
Di bagian ini, Anda seperti dibawa ke dunia lain. Mengawang-awang dan serba biru. Jika melihat dunia khayalan ciptaan pelukis Roger Dean yang ada di sampul album 'Close to the Edge', ke sana lah Anda akan berpelesir secara imajinatif.
Ya, dunia yang penuh dengan mahluk ganjil. Seperti dunia kita, namun dengan nuansa yang penuh dengan lekuk simetris. Betapa tidak, ilustrasi itu menyuguhkan pegunungan yang melayang dengan laut bertepikan langit.
Jangan lupakan pula permainan Steve Howe di bagian ini. Gitaris yang juga memperkuat band 'Asia' ini memamerkan kehandalannya memainkan pedal steel guitar bermerek Fender. Alunan pedal steel guitar ini berpadu dengan instrumen Wakeman.
Lalu, Jon Anderson kembali menyanyikan lirik dari stanza pertama 'The Cord of Life'. Namun, kali ini dinyanyikan dengan nada yang rada berbeda. Masih terdengar epik, namun nuansanya cukup sedih.
The Preacher, The Teacher
Melodi dan lirik pada bagian ini setali tiga uang dengan 'The Cord of Life'. Tentunya, mereka memainkan dengan sejumlah variasi. Yang membedakan adalah bagian 'The Preacher, The Teacher' memainkan permainan cepat synthesizer dari Rick Wakeman selama lagu tersebut.
Stanza terakhir dari bagian ini lagi-lagi mengandung lirik dari 'The Cord of Life'. Tapi, lirik ini dinyanyikan dengan nuansa yang berbeda. Seksi ini berakhir dengan nuansa orkestra yang dihasilkan dari perkawinan suara Mellotron dan Moog yang dimainkan Rick Wakeman.
Di bagian ini, Bill Bruford mulai menunjukkan ketukan khasnya. Ganjil dan tak terprediksi. Berbeda dengan bagian sebelumnya. Di sini, Bruford lebih banyak mengeksplorasi permainan drumnya mengiringi para punggawa Yes lainnya.
Apocalypse
Ini merupakan bagian pamungkas dari keseluruhan lagu 'And You And I'. Selain itu, ini juga merupakan bagian terpendek dalam lagu tersebut. Hanya berdurasi 40 detik. Di bagian ini, suara gitar Howe mengambil alih tampuk kekuasaan. Mendominasi sepanjang bagian.
Lirik di bagian ini pun juga 'mencuri' dari 'Cord of Life'. Namun, yang membedakan, lirik ini dinyanyikan dari kord B. Dan, ketukannya pun lebih cepat. Irama ini terus bertalu hingga lagu ini berlalu.
“Saya ingat ketika kami memainkan 'And You And I' di Philadelphia untuk kali pertama. Seluruh ruangan begitu hidup dengan musik yang kami mainkan. Itu sangat luar biasa. Dan, saat kami selesai, para penonton bersorak dan bertepuk tangan selama 15 menit. Wow!" ujar Jon Anderson.
Menurut Anderson, itulah yang dirinya pikirkan saat mengingat momen terakhir 'And You And I'. "Itu adalah salah satu momen dalam hidupmu yang tidak akan pernah kamu lupakan selamanya," tutup Jon Anderson.
Sepenggelar lirik 'And You And I' menutup lagu tersebut:
And you and I climb, crossing the shapes of the morning.
And you and I reach over the sun for the river.
And you and I climb, clearer, towards the movement.
And you and I called over valleys of endless seas.
(Rendy Adrikni Sadikin)
Abstraksi Musik...
Friday, 14 February 2014
Wednesday, 12 February 2014
Dalam 4 Jam, 47 Gitaris Himpun Rp1,7 Miliar
SEKAR GINOTAN, PALMERAH - Suara raungan gitar terdengar bersahut-sahutan di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Palmerah, Jakarta Barat, Rabu (12/2/2014). Berpadu dengan instrumen lainnya, namun suara gitar begitu dominan. Penonton pun tampak memenuhi BBJ malam itu.
Ya, di bangunan joglo tua tersebut, sebanyak 47 gitaris berkumpul. Mereka datang untuk satu tujuan: menggalang dana untuk korban bencana alam di Indonesia. Bukan tanpa hasil, aksi para gitaris itu berhasil menghimpun dana Rp1,7 miliar. Dana tersebut terkumpul dalam waktu tak lebih dari empat jam.
"Donasi yang terkumpul malam ini sebesar Rp1.729.595.200 ditambah 10 dolar Singapura," kata Alvin Adam, pembawa acara malam amal tersebut. Dana tersebut didapat dari sumbangan para donatur. Tak hanya berasal dari korporasi, dana itu juga berasal dari perseorangan yang telah menyisihkan rezekinya.
Acara dimulai sekitar pukul 19.30 WIB. Tampil para gitaris tanah air yang tergabung dalam band kawakan Indonesia. Penampilan dibuka oleh Diat 'Yovie n' Nuno', Arif 'Kerispatih', Rama 'D'Masiv', Irfan Aulia "Samsons", Marshal 'ADA Band', dan Arden 'Tiket' yang membawakan lagu berjudul 'Pelangi' milik Koes Plus.
Lalu, disambung oleh penampilan Denny Chasmala, Kin Aulia 'The Fly', QoQo 'She', Taraz Bistara 'The Rock/Triad', Eross Candra, Didit Saad, dan Roxanna Silalahi yang membawakan tembang 'One Love' milik legenda musik reggae, Bob Marley.
Penampilan malam tadi ditutup oleh penampilan dari gitaris senior Indonesia yang tergabung dalam God Bless, Ian Antono. Ian tampil bersama Toto Tewel dan seluruh pendukung acara seraya menutup gelaran malam amal dengan lagu 'Rumah Kita'.(Warta Kota)
Ya, di bangunan joglo tua tersebut, sebanyak 47 gitaris berkumpul. Mereka datang untuk satu tujuan: menggalang dana untuk korban bencana alam di Indonesia. Bukan tanpa hasil, aksi para gitaris itu berhasil menghimpun dana Rp1,7 miliar. Dana tersebut terkumpul dalam waktu tak lebih dari empat jam.
"Donasi yang terkumpul malam ini sebesar Rp1.729.595.200 ditambah 10 dolar Singapura," kata Alvin Adam, pembawa acara malam amal tersebut. Dana tersebut didapat dari sumbangan para donatur. Tak hanya berasal dari korporasi, dana itu juga berasal dari perseorangan yang telah menyisihkan rezekinya.
Acara dimulai sekitar pukul 19.30 WIB. Tampil para gitaris tanah air yang tergabung dalam band kawakan Indonesia. Penampilan dibuka oleh Diat 'Yovie n' Nuno', Arif 'Kerispatih', Rama 'D'Masiv', Irfan Aulia "Samsons", Marshal 'ADA Band', dan Arden 'Tiket' yang membawakan lagu berjudul 'Pelangi' milik Koes Plus.
Lalu, disambung oleh penampilan Denny Chasmala, Kin Aulia 'The Fly', QoQo 'She', Taraz Bistara 'The Rock/Triad', Eross Candra, Didit Saad, dan Roxanna Silalahi yang membawakan tembang 'One Love' milik legenda musik reggae, Bob Marley.
Penampilan malam tadi ditutup oleh penampilan dari gitaris senior Indonesia yang tergabung dalam God Bless, Ian Antono. Ian tampil bersama Toto Tewel dan seluruh pendukung acara seraya menutup gelaran malam amal dengan lagu 'Rumah Kita'.(Warta Kota)
Juli 2014, Burt Bacharach Gelar Rangkaian Konser
SEKAR GINOTAN, JAKARTA - Musisi, komposer sekaligus pencipta lagu terkenal, Burt Bacharach, bakal kembali menyapa penggemarnya. Pria yang terkenal dengan lagu 'The Look of love' dan 'Close To You' ini akan menggelar konser pada Juli 2014.
Seperti dilansir Music News, ada enam konser dalam rangkaian tur Bacharach. Tur tersebut dimulai dengan dua pertunjukkan yang akan dihelat di London Royal Festival Hall, pada 23 dan 26 Juli 2014. Lalu, konser dilanjutkan di Birmingham Symphony Hall pada 28 Juli 2014.
Tidak berhenti sampai di situ, Bacharach bakal menyambangi Edinburgh Playhouse pada 30 Juli dan Manchester Bridgewater Hall pada 1 Agustus. Konser pamungkas sekaligus penutup tur akan dihelat di Empire Liverpool pada 3 Agustus 2014.
Rangkaian tur ini sekaligus menancapkan eksistensi Bacharach yang telah malang melintang di dunia musik selama 50 tahun ini. Selama lima dekade tersebut, Bacharach telah menciptakan ratusan lagu dan menciptakan standar tersendiri dalam industri musik serta kreatif.
Setelah sensasional kembali Bacharach untuk pantai Inggris tahun lalu, The Daily Telegraph menyatakan mereka berada di 'hadapan jenius' dengan The Independent mengatakan acara itu 'pelajaran brilian dalam logistik kinerja konser modern.
Dengan dibalut musik orkestra dalam konsernya di London dan Edinburgh nanti, Bacharach bakal mengajak sejumlah band dan penyanyi. Dan, penggemar pun bakal dihibur dengan sederet lagu-lagu hits ciptaan sang mestro tersebut.
Adapun tiket konser Bacharach mulai dijual 14 Februari 2014. Ini menjadi sebuah kado menyenangkan bagi mereka yang merayakan hari kasih sayang atau Valentine.
Sepak terjang pria bernama lengkap Burt Freeman Bacharach ini tak bisa dipungkiri di dunia musik. Betapa tidak, pria kelahiran 12 Mei 1928 ini telah menggondol enam Grammy Award dan tiga Academy Award winner.
Pianis ini juga dikenal dengan komposisi lagunya yang mengharu biru dari tahun 1950-an hingga 1980-an. Lagu-lagu Bacharach antara lain, 'The Look of Love', 'Close To You', 'I Never Fall In Love Again' dan 'What The World Needs Now.'(ras)
Seperti dilansir Music News, ada enam konser dalam rangkaian tur Bacharach. Tur tersebut dimulai dengan dua pertunjukkan yang akan dihelat di London Royal Festival Hall, pada 23 dan 26 Juli 2014. Lalu, konser dilanjutkan di Birmingham Symphony Hall pada 28 Juli 2014.
Tidak berhenti sampai di situ, Bacharach bakal menyambangi Edinburgh Playhouse pada 30 Juli dan Manchester Bridgewater Hall pada 1 Agustus. Konser pamungkas sekaligus penutup tur akan dihelat di Empire Liverpool pada 3 Agustus 2014.
Rangkaian tur ini sekaligus menancapkan eksistensi Bacharach yang telah malang melintang di dunia musik selama 50 tahun ini. Selama lima dekade tersebut, Bacharach telah menciptakan ratusan lagu dan menciptakan standar tersendiri dalam industri musik serta kreatif.
Setelah sensasional kembali Bacharach untuk pantai Inggris tahun lalu, The Daily Telegraph menyatakan mereka berada di 'hadapan jenius' dengan The Independent mengatakan acara itu 'pelajaran brilian dalam logistik kinerja konser modern.
Dengan dibalut musik orkestra dalam konsernya di London dan Edinburgh nanti, Bacharach bakal mengajak sejumlah band dan penyanyi. Dan, penggemar pun bakal dihibur dengan sederet lagu-lagu hits ciptaan sang mestro tersebut.
Adapun tiket konser Bacharach mulai dijual 14 Februari 2014. Ini menjadi sebuah kado menyenangkan bagi mereka yang merayakan hari kasih sayang atau Valentine.
Sepak terjang pria bernama lengkap Burt Freeman Bacharach ini tak bisa dipungkiri di dunia musik. Betapa tidak, pria kelahiran 12 Mei 1928 ini telah menggondol enam Grammy Award dan tiga Academy Award winner.
Pianis ini juga dikenal dengan komposisi lagunya yang mengharu biru dari tahun 1950-an hingga 1980-an. Lagu-lagu Bacharach antara lain, 'The Look of Love', 'Close To You', 'I Never Fall In Love Again' dan 'What The World Needs Now.'(ras)
Queen Greatest Hits, Terlaris Sepanjang Sejarah Inggris
SEKAR GINOTAN, JAKARTA - Meski ditinggal oleh sang vokalis, Freddie Mercury yang tewas akibat penyakit HIV/AIDS, Queen bagaikan hidup segan mati tak mau. Sejumlah album dirilis sepeninggal Freddie. Namun, hal itu tak kunjung mengembalikan kejayaan mereka.
Kendati demikian, band Queen tetaplah legenda. Ada untuk dikenang. Karyanya abadi. Era keemasan mereka yang tertoreh tak akan bisa terhapus tinta zaman. Bahkan, belum lama ini, band yang hanya menyisakan Brian May, John Deacon dan Roger Taylor ini mengukir rekor.
Album 'Greatest Hits' mereka yang dirilis pada 1981, menjadi album terlaris sepanjang sejarah musik di Inggris. Album yang memajang foto keempat personel Queen tersebut berhasil melampaui rekor penjualan 6 juta keping album.
Kepada perusahaan tangga lagu resmi, gitaris Queen, Brian May, mengatakan pencapaian ini sungguh mengagumkan. "Saya ingin berterima kasih kepada semua pihak yang mendukung kami selama ini. Kami berharap bisa terus memberikan yang terbaik untuk penggemar," kata May.
Peringkat kedua ditempati oleh album Abba 'Greatest Hits' dengan penjualan 900 ribu kopi album. Lalu, di posisi ketiga, ada album monumental The Beatles 'Sgt. Pepper...'. Kemudian, diikuti oleh album Adele '21' dan Oasis 'Whats The Story Morning Glory' di posisi empat.(ras)
Berikut 20 Album Terlaris di Inggris
1. Greatest Hits - Queen
2. Gold: Greatest Hits - ABBA
3. Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band - Beatles
4. 21 - Adele
5. What's the Story Morning Glory? - Oasis
6. Thriller - Michael Jackson
7. The Dark Side of the Moon - Pink Floyd
8. Brothers in Arms - Dire Straits
9. Bad - Michael Jackson
10. Greatest Hits II - Queen
11. The Immaculate Collection - Madonna
12. Rumours - Fleetwood Mac
13. Back to Black - Amy Winehouse
14. Stars - Simply Red
15. Come On Over - Shania Twain
16. Back to Bedlam - James Blunt
17. Urban Hymns - Verve
18. Legend - Bob Marley and the Wailers
19. Bat Out of Hell - Meat Loaf
20. Bridge Over Troubled Waters - Simon and Garfunkel
Kendati demikian, band Queen tetaplah legenda. Ada untuk dikenang. Karyanya abadi. Era keemasan mereka yang tertoreh tak akan bisa terhapus tinta zaman. Bahkan, belum lama ini, band yang hanya menyisakan Brian May, John Deacon dan Roger Taylor ini mengukir rekor.
Album 'Greatest Hits' mereka yang dirilis pada 1981, menjadi album terlaris sepanjang sejarah musik di Inggris. Album yang memajang foto keempat personel Queen tersebut berhasil melampaui rekor penjualan 6 juta keping album.
Kepada perusahaan tangga lagu resmi, gitaris Queen, Brian May, mengatakan pencapaian ini sungguh mengagumkan. "Saya ingin berterima kasih kepada semua pihak yang mendukung kami selama ini. Kami berharap bisa terus memberikan yang terbaik untuk penggemar," kata May.
Peringkat kedua ditempati oleh album Abba 'Greatest Hits' dengan penjualan 900 ribu kopi album. Lalu, di posisi ketiga, ada album monumental The Beatles 'Sgt. Pepper...'. Kemudian, diikuti oleh album Adele '21' dan Oasis 'Whats The Story Morning Glory' di posisi empat.(ras)
Berikut 20 Album Terlaris di Inggris
1. Greatest Hits - Queen
2. Gold: Greatest Hits - ABBA
3. Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band - Beatles
4. 21 - Adele
5. What's the Story Morning Glory? - Oasis
6. Thriller - Michael Jackson
7. The Dark Side of the Moon - Pink Floyd
8. Brothers in Arms - Dire Straits
9. Bad - Michael Jackson
10. Greatest Hits II - Queen
11. The Immaculate Collection - Madonna
12. Rumours - Fleetwood Mac
13. Back to Black - Amy Winehouse
14. Stars - Simply Red
15. Come On Over - Shania Twain
16. Back to Bedlam - James Blunt
17. Urban Hymns - Verve
18. Legend - Bob Marley and the Wailers
19. Bat Out of Hell - Meat Loaf
20. Bridge Over Troubled Waters - Simon and Garfunkel
7 Tahun Absen, Embrace Umumkan Tur Reuni
SEKAR GINOTAN, LONDON - Masih ingat dengan band Embrace? Pada awal 2000, band asal West Yorkshire, Inggris, ini pernah meramaikan blantika musik dunia, terutama scene British-pop. Salah satu lagu mereka yang cukup tersuar adalah 'Save Me'.
Bisa dibilang, lagu yang terdapat pada album 'Drawn From Memory' itu semakin mengukuhkan eksistensi Embrace di dunia musik. Diiringi musik folk ala Jeff Buckley pada awal lagu dan langsung menggeber tempo pada reffnya, tembang ini terbilang sukses di eranya.
Setelah tujuh tahun absen--sejak album terakhir mereka, 'This New Day' yang dirilis pada 2006--, Embrace seolah ingin kembali mengulang kejayaan. Mereka menggelar reuni. Tak tanggung-tanggung, mereka langsung mengumumkan tur.
Tur yang dimulai pada Mei 2014 ini sekaligus menjadi ajang untuk mempromosikan album terbaru mereka, 'Embrace', yang akan dirilis pada April 2014. Ini merupakan tur pertama mereka sejak tujuh tahun memarkirkan diri, absen dari dunia musik.
Selama kariernya di dunia musik, Embrace telah merilis 3 album nomor wahid, 6 single yang merajai tangga lagu, pertunjukan yang sold-out, dan meraup 2,5 juta penjualan album di dataran Negeri Ratu Elizabeth. Hingga tiba-tiba mereka menghilang tanpa jejak.
Ya, sebagai pemanasan, pekan ini, Embrace bakal tampil di empat pertunjukan di Skotlandia sekaligus mengumumkan tur comeback mereka. Tur tersebut bakal dimulai di Liverpool pada 9 Mei 2014 dan diakhiri di London's Shepherd's Bush Empire.(ras)
Inilah jadwal lengkap tur mereka:
February:
Thurs 13th Dundee Fat Sams
Fri 14th Aberdeen The Lemon Tree
Sat 15th Forres The Loft
Sun 16th Inverness Ironworks
May:
Fri 9th Liverpool O2 Academy
Sat 10th Birmingham O2 Academy
Sun 11th Nottingham Rock City
Tues 13th Bristol O2 Academy
Weds 14th Leeds O2 Academy
Fri 16th Glasgow O2 Academy
Sat 17th Manchester Academy
Sun 18th Newcastle O2 Academy
Tues 20th London O2 Shepherd's Bush Empire
Bisa dibilang, lagu yang terdapat pada album 'Drawn From Memory' itu semakin mengukuhkan eksistensi Embrace di dunia musik. Diiringi musik folk ala Jeff Buckley pada awal lagu dan langsung menggeber tempo pada reffnya, tembang ini terbilang sukses di eranya.
Setelah tujuh tahun absen--sejak album terakhir mereka, 'This New Day' yang dirilis pada 2006--, Embrace seolah ingin kembali mengulang kejayaan. Mereka menggelar reuni. Tak tanggung-tanggung, mereka langsung mengumumkan tur.
Tur yang dimulai pada Mei 2014 ini sekaligus menjadi ajang untuk mempromosikan album terbaru mereka, 'Embrace', yang akan dirilis pada April 2014. Ini merupakan tur pertama mereka sejak tujuh tahun memarkirkan diri, absen dari dunia musik.
Selama kariernya di dunia musik, Embrace telah merilis 3 album nomor wahid, 6 single yang merajai tangga lagu, pertunjukan yang sold-out, dan meraup 2,5 juta penjualan album di dataran Negeri Ratu Elizabeth. Hingga tiba-tiba mereka menghilang tanpa jejak.
Ya, sebagai pemanasan, pekan ini, Embrace bakal tampil di empat pertunjukan di Skotlandia sekaligus mengumumkan tur comeback mereka. Tur tersebut bakal dimulai di Liverpool pada 9 Mei 2014 dan diakhiri di London's Shepherd's Bush Empire.(ras)
Inilah jadwal lengkap tur mereka:
February:
Thurs 13th Dundee Fat Sams
Fri 14th Aberdeen The Lemon Tree
Sat 15th Forres The Loft
Sun 16th Inverness Ironworks
May:
Fri 9th Liverpool O2 Academy
Sat 10th Birmingham O2 Academy
Sun 11th Nottingham Rock City
Tues 13th Bristol O2 Academy
Weds 14th Leeds O2 Academy
Fri 16th Glasgow O2 Academy
Sat 17th Manchester Academy
Sun 18th Newcastle O2 Academy
Tues 20th London O2 Shepherd's Bush Empire
Sang Flamboyan di Penghujung Usia
NOVEMBER 1991. Di sebuah rumah di Kensington, Inggris, sesosok tubuh lunglai terbaring tak berdaya. Hampir seluruh inderanya--terutama penglihatan--mulai berkurang. Kondisinya rapuh, stamina menurun drastis. Di samping raganya yang mulai sirna, dua ekor kucing setia menemani. Melingkar di atas tempat tidur, dimana sang tuan tergolek lemah. Tubuh itu adalah milik Farrokh Bulsara atau yang lebih dikenal dengan nama panggungnya: Freddie Mercury.
Di kamar itu, Freddie berada di ambang kematian. "Pee pee (buang air kecil)," kata Freddie kepada dua orang yang menemaninya, Peter "Phoebe" Freestone, asisten pribadi Freddie; dan Jim Hutton, pacar gay Freddie. Siapa nyana, itu adalah kata-kata terakhir yang diucapkan oleh vokalis band terkenal, Queen, ini. Tubuhnya yang lemas, membuat Freddie harus dibopong. Dia meminta tolong kepada mereka untuk diantarkan ke kamar mandi.
Jim menggendong Freddie. Dilingkarkannya tubuh Freddie ke badan Jim. Saat hendak turun dari tempat tidur, terdengar bunyi retakan tulang. Seperti suara tulang yang patah dari tubuh Freddie yang lemah. Sang biduan bersuara emas itupun berteriak. Merintih kesakitan, dan langsung pingsan tak sadarkan diri. "Seperti suara ranting pohon yang terinjak," terang Jim Hutton.
Sosok Freddie yang tak berdaya ini sangat berbeda ketimbang di masa jayanya. Freddie merupakan seorang vokalis yang enerjik. Polah tingkahnya di atas panggung selalu bisa membakar emosi penonton. Gaya serta kharisma dari seorang Freddie membuat 120 ribu orang rela berdesak-desakan memadati di Lapangan Knebworth, Stevenage, Inggris. Tujuannya cuma satu: melihat Freddie dan bandnya, Queen, mengguncang panggung.
Knebworth mungkin merupakan salah satu konser terbaik dari Queen. Namun, Live Aid pada 13 Juli 1985 merupakan penampilan paling terbaik Queen. Terbaik dari yang terbaik. Betapa tidak, Queen mencuri perhatian para penonton yang notabene bukan hanya penggemar dari grup tersebut. Mereka berasal dari beragam lapisan penggemar. Maklum, saat itu, ada sejumlah band hebat yang tampil dalam acara penggalangan dana tersebut. salah satunya Led Zeppelin.
Mungkin banyak menduga Led Zeppelin lah band yang paling ditunggu. Pasalnya, sejak kematian sang drummer John Bonham pada 1978, band tersebut jarang, bahkan tidak pernah, tampil di depan publik dalam suatu konser. Namun, demi menggalang dana untuk korban kelaparan di Ethiopia itu, Led Zeppelin kembali tampil. Tanpa John Bonham tentunya. Zeppelin mengajak drummer Genesis, Phil Collins, mengisi kekosongan.
Namun, Freddie dan Queen merupakan sosok yang paling ditunggu-tunggu. Maklum, Queen kembali setelah vakum. Kreativitas yang mangkrak membuat masing-masing personelnya sibuk mengerjakan proyek solo karier. Queen pun telantar. Kendati begitu, mereka sadar. Queen masih menancap dalam di hati penggemar. Mereka raib di puncak kejayaan. Kini, mereka siap mengibarkan bendera berlambang huruf Q dengan ornamen dua singa, kepiting, dan perawan kembar itu.
Suara gemuruh penonton membahana. Mengisi setiap sudut di Stadion Wembley, London, tempat penyelenggaraan Konser Live Aid. Freddie, Brian May, John Deacon dan Roger Taylor, tengah bersiap di belakang panggung. Mereka siap tampil. Penonton terus bergemuruh. Beberapa di antaranya membawa atribut slater yang dibentangkan bertuliskan "Queen Works." Langit pun siap menanti kehadiran salah satu band terbaik di dunia itu.
Saat itu, Freddie yang sempat dikabarkan terpapar virus mematikan HIV/AIDS, tengah menderita penyakit tenggorokan. Dokter pribadi sempat menasehati pria kelahiran Stone Town, Zanzibar, 5 September 1946, itu untuk tidak tampil di Live Aid. Namun, Freddie tidak mengindahkan. Dia tahu, hidupnya hanyalah untuk menyenangkan para penikmat suara dan aksi panggungnya. Dia enggan mengecewakan para penggemarnya.
Queen masuk ke panggung. Langit tak kuasa menahan riuh penonton. Awan pun tersibak, mempersilahkan sinar matahari menyinari tahta sang 'ratu' saat tampil di atas panggung. Lagu pertama langsung dinyanyikan oleh Freddie. Denting piano berbunyi. 'Bohemian Rhapsody' mengalun. Penggemar bersorak, ada pula yang meneteskan air mata. Dengan suara yang rada serak namun masih perkasa, Freddie menyanyikan lagu monumental Queen itu.
Meski hanya diberikan waktu hampir setengah jam, Queen tak henti menggeber lagu-lagunya. Kontan, penonton kian terbakar. Dimulai dari 'Bohemian Rhapsody', 'Radio Ga Ga', ditambah improvisasi vokal Freddie yang mengajak penonton bernyanyi, 'Hammer To Fall', 'Crazy Little Thing Called Love', dan lagu pamungkas 'we Are The Champions'. Setengah jam yang mengagumkan.
Tak terbantahkan, Freddie memang merupakan sosok yang flamboyan dan percaya diri di atas panggung. Padahal, Freddie pernah mengakui dirinya adalah seorang introvert, cenderung pemalu. Dia tidak suka diwawancarai, dan hampir tertutup terhadap media. Namun, ketika berada di atas panggung, jubah itu ditanggalkan. Freddie menjadi seorang sosok yang jauh berbeda. Seorang frontman yang bisa membawa emosi penonton, hingga klimaks.
Namun, HIV/AIDS menggerogotinya. Hal ini dikarenakan gaya hidup bebas yang dianutnya. Freddie merupakan biseksual. Dia pernah memiliki istri bernama Mary Austin, yang hingga akhir hayatnya, menjadi teman terbaik Freddie. Freddie pun memiliki seorang kekasih gay bernama Jim Hutton. Freddie dan Jim yang juga seorang hairdresser itu, di sebuah bar pada 1984.
Kabar penyakit HIV/AIDS yang diderita Freddie sudah terendus oleh media. Namun, orang-orang di sekeliling Freddie menutupinya. Kendati begitu, mata manusia tidak bisa dibohongi. Semakin lama, fisik Freddie semakin kurus dan kuyu. Matanya sayu. Tatapannya lemah. Kondisi tubuhnya semakin menurun. Tapi, tak ada seorang pun yang berani bicara terkait lekatnya HIV/AIDS di tubuh Freddie.
Koran The Sun edisi 29 April 1991 menguak misteri itu. Di halaman depan koran, terpampang foto Freddie Mercury dengan kondisi yang sangat tidak biasa. Foto dari samping badan itu memperlihatkan Freddie dengan seorang temannya, melangkah dari sebuah rumah. Kondisi badannya tampak kurus dan lemah. Bertolak belakang dengan kondisi Freddie yang enerjik dan sehat.
Meski sakit dan kondisinya lemah, Freddie tetap bersumpah setia pada Queen. Album demi album diselesaikannya di tengah ancaman HIV/AIDS. Tujuannya: demi memuaskan dan tidak mengecewakan para penggemarnya. Album 'The Miracle' dan 'Innuendo' pun dirilis. Saat itu, kondisi Freddie sudah menunjukkan gejala penurunan.
Puncaknya, saat pembuatan video klip lagu 'These Are The Days Of Our Live' pada Mei 1991. Dalam vido klip tersebut, Freddie mengenakan kemeja dengan motif warna-warni yang tampak terlalu besar untuk tubuhnya. Mata sayu. Badan kurus. Suaranya pun kian menipis, tidak segarang dulu. Namun, vokalis flamboyan ini tetap ingin bergaya. Siapa sangka, itu adalah penampilan terakhirnya di kamera.
Freddie merampungkan rekamannya bersama Queen pada Juni 1991. Sehabis itu, dia memilih untuk menyendiri di rumah di Kensington. Marie Austin merupakan salah satu orang yang menemani Freddie di saat-saat terakhir. Marie selalu rutin mengunjungi Freddie. Kondisinya memburuk. Freddie memutuskan untuk mempercepat kematiannya. Dia menolak untuk menenggak obat-obatan.
Pada 23 November 1991, misteri itu terungkap. Melalui manajer Queen, Jim Beach, Mercury mengakui dirinya mengidap HIV/Positif. Hal itu tersirat dalam sebuah surat atas nama Mercury yang dibacakan oleh Jim Beach.
"Saya ingin mengkonfirmasi bahwa saya telah diuji HIV positif dan AIDS. Saya merasa perlu untuk menjaga informasi khusus ini untuk melindungi privasi orang di sekitar saya. Namun, sudah saatnya sekarang untuk teman-teman dan penggemar di seluruh dunia untuk mengetahui kebenaran. Saya berharap bahwa setiap orang akan bergabung dengan saya, dokter saya, dan semua orang di seluruh dunia memerangi penyakit yang mengerikan ini," tulis Freddie.
Pada 24 November 1991 pukul 18.30 waktu setempat, dokter Atkinson meninggalkan rumah Freddie di Kensington. Dia datang setelah Freddie Mercury dikabarkan tak sadarkan diri. Tinggalah, Freddie bersama Jim Hutton dan Phoebe. Saat keduanya beranjak ke kamar Freddie, mereka menemukan Freddie telah membasahi kasur yang ditidurinya. Freddie masih dalam kondisi tidak sadarkan diri saat itu.
Phoebe mulai mengganti seprai kasur tersebut. Di saat yang sama, Jim mengurus Freddie. Dia membantu Freddie mengenakan baju bersih dan celana pendek. Saat itu pula Freddie mengembuskan napasnya. "Saya merasakan dia mengangkat kaki kirinya untuk membantu saya. Itu adalah hal terakhir yang dia lakukan. Saya melihat dia, dan menyadari bahwa Freddie telah tiada," ujar Jim Hutton.
Dunia musik berduka. Seorang vokalis terbaik di dunia telah tutup usia. Menginjak dini hari, berita tentang kematian Freddie telah tersiar di seluruh koran dan televisi pada 25 November 1991. Freddie Mercury telah meninggal. Penyebab resmi kematian Freddie adalah Bronkopneumonia (radang paru-paru) yang merupakan penyakit komplikasi dari HIV/AIDS.
Tanggal 27 November 1991, Freddie dimakamkan dengan ritual yang dilakukan oleh seorang imam Zoroaster. Ritual ini hanya diihadiri untuk 35 teman dekat dan keluarga. Mereka di antaranya anggota tersisa dari Queen dan Elton John. Jasad Freddie dikremasi di Pemakaman Gren Kensal, London Barat. Namun, keberadaan abunya hingga kini hanya diketahui oleh Marie Austin.
Hingga kini, Freddie Mercury menjadi legenda. Seorang penyanyi yang mendedikasikan dirinya untuk dunia musik dan penggemar, sekaligus menjadi ikon peperangan melawan penyakit mematikan yang disebut HIV/AIDS. Si flamboyan nan kharismatik itu telah tiada, namun warisan musiknya masih terngiang hingga kini. Setiap sudut kota masih menggemakan suaranya lewat lagu-lagu yang dinyanyikannya bersama Queen.
'We Are The Champions' selalu menjadi encore di setiap konser. Lagu itu pun menjadi penutup yang tetap di akhir hayat Freddie. Seperti dikutip dalam lirik lagu tersebut, "meski bagaimana pun, Freddie adalah seorang juara. Tidak ada tempat untuk orang yang kalah, karena Freddie tetaplah seorang juara."
Di kamar itu, Freddie berada di ambang kematian. "Pee pee (buang air kecil)," kata Freddie kepada dua orang yang menemaninya, Peter "Phoebe" Freestone, asisten pribadi Freddie; dan Jim Hutton, pacar gay Freddie. Siapa nyana, itu adalah kata-kata terakhir yang diucapkan oleh vokalis band terkenal, Queen, ini. Tubuhnya yang lemas, membuat Freddie harus dibopong. Dia meminta tolong kepada mereka untuk diantarkan ke kamar mandi.
Jim menggendong Freddie. Dilingkarkannya tubuh Freddie ke badan Jim. Saat hendak turun dari tempat tidur, terdengar bunyi retakan tulang. Seperti suara tulang yang patah dari tubuh Freddie yang lemah. Sang biduan bersuara emas itupun berteriak. Merintih kesakitan, dan langsung pingsan tak sadarkan diri. "Seperti suara ranting pohon yang terinjak," terang Jim Hutton.
Sosok Freddie yang tak berdaya ini sangat berbeda ketimbang di masa jayanya. Freddie merupakan seorang vokalis yang enerjik. Polah tingkahnya di atas panggung selalu bisa membakar emosi penonton. Gaya serta kharisma dari seorang Freddie membuat 120 ribu orang rela berdesak-desakan memadati di Lapangan Knebworth, Stevenage, Inggris. Tujuannya cuma satu: melihat Freddie dan bandnya, Queen, mengguncang panggung.
Knebworth mungkin merupakan salah satu konser terbaik dari Queen. Namun, Live Aid pada 13 Juli 1985 merupakan penampilan paling terbaik Queen. Terbaik dari yang terbaik. Betapa tidak, Queen mencuri perhatian para penonton yang notabene bukan hanya penggemar dari grup tersebut. Mereka berasal dari beragam lapisan penggemar. Maklum, saat itu, ada sejumlah band hebat yang tampil dalam acara penggalangan dana tersebut. salah satunya Led Zeppelin.
Mungkin banyak menduga Led Zeppelin lah band yang paling ditunggu. Pasalnya, sejak kematian sang drummer John Bonham pada 1978, band tersebut jarang, bahkan tidak pernah, tampil di depan publik dalam suatu konser. Namun, demi menggalang dana untuk korban kelaparan di Ethiopia itu, Led Zeppelin kembali tampil. Tanpa John Bonham tentunya. Zeppelin mengajak drummer Genesis, Phil Collins, mengisi kekosongan.
Namun, Freddie dan Queen merupakan sosok yang paling ditunggu-tunggu. Maklum, Queen kembali setelah vakum. Kreativitas yang mangkrak membuat masing-masing personelnya sibuk mengerjakan proyek solo karier. Queen pun telantar. Kendati begitu, mereka sadar. Queen masih menancap dalam di hati penggemar. Mereka raib di puncak kejayaan. Kini, mereka siap mengibarkan bendera berlambang huruf Q dengan ornamen dua singa, kepiting, dan perawan kembar itu.
Suara gemuruh penonton membahana. Mengisi setiap sudut di Stadion Wembley, London, tempat penyelenggaraan Konser Live Aid. Freddie, Brian May, John Deacon dan Roger Taylor, tengah bersiap di belakang panggung. Mereka siap tampil. Penonton terus bergemuruh. Beberapa di antaranya membawa atribut slater yang dibentangkan bertuliskan "Queen Works." Langit pun siap menanti kehadiran salah satu band terbaik di dunia itu.
Saat itu, Freddie yang sempat dikabarkan terpapar virus mematikan HIV/AIDS, tengah menderita penyakit tenggorokan. Dokter pribadi sempat menasehati pria kelahiran Stone Town, Zanzibar, 5 September 1946, itu untuk tidak tampil di Live Aid. Namun, Freddie tidak mengindahkan. Dia tahu, hidupnya hanyalah untuk menyenangkan para penikmat suara dan aksi panggungnya. Dia enggan mengecewakan para penggemarnya.
Queen masuk ke panggung. Langit tak kuasa menahan riuh penonton. Awan pun tersibak, mempersilahkan sinar matahari menyinari tahta sang 'ratu' saat tampil di atas panggung. Lagu pertama langsung dinyanyikan oleh Freddie. Denting piano berbunyi. 'Bohemian Rhapsody' mengalun. Penggemar bersorak, ada pula yang meneteskan air mata. Dengan suara yang rada serak namun masih perkasa, Freddie menyanyikan lagu monumental Queen itu.
Meski hanya diberikan waktu hampir setengah jam, Queen tak henti menggeber lagu-lagunya. Kontan, penonton kian terbakar. Dimulai dari 'Bohemian Rhapsody', 'Radio Ga Ga', ditambah improvisasi vokal Freddie yang mengajak penonton bernyanyi, 'Hammer To Fall', 'Crazy Little Thing Called Love', dan lagu pamungkas 'we Are The Champions'. Setengah jam yang mengagumkan.
Tak terbantahkan, Freddie memang merupakan sosok yang flamboyan dan percaya diri di atas panggung. Padahal, Freddie pernah mengakui dirinya adalah seorang introvert, cenderung pemalu. Dia tidak suka diwawancarai, dan hampir tertutup terhadap media. Namun, ketika berada di atas panggung, jubah itu ditanggalkan. Freddie menjadi seorang sosok yang jauh berbeda. Seorang frontman yang bisa membawa emosi penonton, hingga klimaks.
Namun, HIV/AIDS menggerogotinya. Hal ini dikarenakan gaya hidup bebas yang dianutnya. Freddie merupakan biseksual. Dia pernah memiliki istri bernama Mary Austin, yang hingga akhir hayatnya, menjadi teman terbaik Freddie. Freddie pun memiliki seorang kekasih gay bernama Jim Hutton. Freddie dan Jim yang juga seorang hairdresser itu, di sebuah bar pada 1984.
Kabar penyakit HIV/AIDS yang diderita Freddie sudah terendus oleh media. Namun, orang-orang di sekeliling Freddie menutupinya. Kendati begitu, mata manusia tidak bisa dibohongi. Semakin lama, fisik Freddie semakin kurus dan kuyu. Matanya sayu. Tatapannya lemah. Kondisi tubuhnya semakin menurun. Tapi, tak ada seorang pun yang berani bicara terkait lekatnya HIV/AIDS di tubuh Freddie.
Koran The Sun edisi 29 April 1991 menguak misteri itu. Di halaman depan koran, terpampang foto Freddie Mercury dengan kondisi yang sangat tidak biasa. Foto dari samping badan itu memperlihatkan Freddie dengan seorang temannya, melangkah dari sebuah rumah. Kondisi badannya tampak kurus dan lemah. Bertolak belakang dengan kondisi Freddie yang enerjik dan sehat.
Meski sakit dan kondisinya lemah, Freddie tetap bersumpah setia pada Queen. Album demi album diselesaikannya di tengah ancaman HIV/AIDS. Tujuannya: demi memuaskan dan tidak mengecewakan para penggemarnya. Album 'The Miracle' dan 'Innuendo' pun dirilis. Saat itu, kondisi Freddie sudah menunjukkan gejala penurunan.
Puncaknya, saat pembuatan video klip lagu 'These Are The Days Of Our Live' pada Mei 1991. Dalam vido klip tersebut, Freddie mengenakan kemeja dengan motif warna-warni yang tampak terlalu besar untuk tubuhnya. Mata sayu. Badan kurus. Suaranya pun kian menipis, tidak segarang dulu. Namun, vokalis flamboyan ini tetap ingin bergaya. Siapa sangka, itu adalah penampilan terakhirnya di kamera.
Freddie merampungkan rekamannya bersama Queen pada Juni 1991. Sehabis itu, dia memilih untuk menyendiri di rumah di Kensington. Marie Austin merupakan salah satu orang yang menemani Freddie di saat-saat terakhir. Marie selalu rutin mengunjungi Freddie. Kondisinya memburuk. Freddie memutuskan untuk mempercepat kematiannya. Dia menolak untuk menenggak obat-obatan.
Pada 23 November 1991, misteri itu terungkap. Melalui manajer Queen, Jim Beach, Mercury mengakui dirinya mengidap HIV/Positif. Hal itu tersirat dalam sebuah surat atas nama Mercury yang dibacakan oleh Jim Beach.
"Saya ingin mengkonfirmasi bahwa saya telah diuji HIV positif dan AIDS. Saya merasa perlu untuk menjaga informasi khusus ini untuk melindungi privasi orang di sekitar saya. Namun, sudah saatnya sekarang untuk teman-teman dan penggemar di seluruh dunia untuk mengetahui kebenaran. Saya berharap bahwa setiap orang akan bergabung dengan saya, dokter saya, dan semua orang di seluruh dunia memerangi penyakit yang mengerikan ini," tulis Freddie.
Pada 24 November 1991 pukul 18.30 waktu setempat, dokter Atkinson meninggalkan rumah Freddie di Kensington. Dia datang setelah Freddie Mercury dikabarkan tak sadarkan diri. Tinggalah, Freddie bersama Jim Hutton dan Phoebe. Saat keduanya beranjak ke kamar Freddie, mereka menemukan Freddie telah membasahi kasur yang ditidurinya. Freddie masih dalam kondisi tidak sadarkan diri saat itu.
Phoebe mulai mengganti seprai kasur tersebut. Di saat yang sama, Jim mengurus Freddie. Dia membantu Freddie mengenakan baju bersih dan celana pendek. Saat itu pula Freddie mengembuskan napasnya. "Saya merasakan dia mengangkat kaki kirinya untuk membantu saya. Itu adalah hal terakhir yang dia lakukan. Saya melihat dia, dan menyadari bahwa Freddie telah tiada," ujar Jim Hutton.
Dunia musik berduka. Seorang vokalis terbaik di dunia telah tutup usia. Menginjak dini hari, berita tentang kematian Freddie telah tersiar di seluruh koran dan televisi pada 25 November 1991. Freddie Mercury telah meninggal. Penyebab resmi kematian Freddie adalah Bronkopneumonia (radang paru-paru) yang merupakan penyakit komplikasi dari HIV/AIDS.
Tanggal 27 November 1991, Freddie dimakamkan dengan ritual yang dilakukan oleh seorang imam Zoroaster. Ritual ini hanya diihadiri untuk 35 teman dekat dan keluarga. Mereka di antaranya anggota tersisa dari Queen dan Elton John. Jasad Freddie dikremasi di Pemakaman Gren Kensal, London Barat. Namun, keberadaan abunya hingga kini hanya diketahui oleh Marie Austin.
Hingga kini, Freddie Mercury menjadi legenda. Seorang penyanyi yang mendedikasikan dirinya untuk dunia musik dan penggemar, sekaligus menjadi ikon peperangan melawan penyakit mematikan yang disebut HIV/AIDS. Si flamboyan nan kharismatik itu telah tiada, namun warisan musiknya masih terngiang hingga kini. Setiap sudut kota masih menggemakan suaranya lewat lagu-lagu yang dinyanyikannya bersama Queen.
'We Are The Champions' selalu menjadi encore di setiap konser. Lagu itu pun menjadi penutup yang tetap di akhir hayat Freddie. Seperti dikutip dalam lirik lagu tersebut, "meski bagaimana pun, Freddie adalah seorang juara. Tidak ada tempat untuk orang yang kalah, karena Freddie tetaplah seorang juara."
Subscribe to:
Comments (Atom)